Sabtu, 12 Mei 2012

Anomali, From Indonesia With Coffee

Alkisah, di abad 11, seorang penggembala kambing di Etiopia suatu pagi menemukan kambing-kambingnya bergerak lebih lincah dan energik dari biasanya di dekat pohon yang berbuah merah. Tingkah laku mereka yang tak biasa menimbulkan rasa penasaran di hati si penggembala. Tertarik, ia menyantap buah-buah kecil yang sekarang dikenal dengan nama kopi. Segera saja tubuhnya merasa lebih segar. Tak lama, seorang sufi asal Yaman, Shaikh ash-Shadhili yang sedang berkeliling Etiopia, kebetulan lewat. Melihat efek yang ditimbulkan dari buah-buah tersebut, ia lalu mengeksplorasi, mulai dari merebus hingga memanggangnya. Hasilnya, terciptalah minuman kopi yang menjadi obat penghilang kantuk sebelum sembahyang dan menjadi minuman favorit di mesjid-mesjid hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbaik di dunia, baik jenis Arabika maupun Robusta. Sayang, kualitas premium kopi asli Indonesia malah jarang bisa dinikmati karena kebanyakan langsung diimpor ke beberapa negara. Masyarakat Indonesia, hanya bisa menikmati kopi dengan kualitas kedua ataupun ketiga.

Tak banyak yang tahu kalau Indonesia mempunyai kopi Arabika yang setara dengan Jamaica Blue Mountain Coffee, salah satu jenis kopi terbaik dan termahal di dunia. Jauh di ujung timur Indonesia, Wamena, Papua, di ketinggian 1600 meter di atas laut, terdapat kebun-kebun kopi milik penduduk asli Papua.

"Biji kopi di Wamena itu sama kualitasnya dengan biji kopi dari Jamaica. Pada jaman kolonial, ada orang Belanda yang membawa biji kopi dari Blue Mountain dan ditanam di Papua. Dengan kontur tanah dan cuaca yang mirip, kopi ini bisa dan memiliki kualitas mirip dengan aslinya," jelas Muhammad Abgari, pemilik Anomali Coffee beberapa waktu lalu di Jakarta.

Jamaica Blue Mountain Coffee adalah kopi Arabika yang ditanam di daerah Blue Mountain di Jamaica. Kondisi pegunungan yang sejuk, berkabut dan tanahnya yang subur di ketinggian 1700 meter di atas laut menjadikan Blue Mountain sebagai tempat yang ideal untuk menghasilkan kopi kualitas premium.

Diantara kopi Arabika lainnya, kopi ini mengandung kafein paling sedikit, lembut, tidak terlalu pahit, kandungan rasa asam yang pas. Well balanced.

Jadi, Indonesia patut berbangga karena mewarisi benih-benih kopi kualitas terbaik di dunia. Hal ini jualah yang membuat dua pemuda pecinta kopi, Irvan Helmi dan Muhammad Abgari bertekat melestarikan kopi Indonesia dan mempopulerkannya ke berbagai belahan bumi.Mimpi besar itu mulai diwujudkan dengan membuka kedai kopi mungil di kawasan Senopati, Jakarta dengan nama Anomali Coffee, kopi yang tak biasa. Mau tahu?

Source : Kompas

Selat Pantar, Taman Laut Terindah Setelah Karibia

Ingin melihat keindahan dan keunikan alam bawah laut? Selat Pantar adalah tempatnya. Wisata alam bawah laut merupakan daya tariknya, konon terindah setelah taman laut Kepulauan Karibia. Banyak wisatawan asing yang pernah ke Alor terkagum-kagum. Sebab, selain dimanjakan keindahan taman lautnya, mereka juga menemukan fenomena taman laut tersebut langka dan sangat menarik. Makanya, wajar jika wisata bahari Alor dengan panorama bawah laut yang spefisik di Selat Pantar menjadi primadona dan pemikat bagi para diver kelas dunia dari Amerika, Australia, Austria, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman, Kanada, Selandia Baru, dan beberapa negara di Asia.

Tercatat, ada 26 titik diving yang memesona wisatawan di sana. Ke-26 titik diving itu yaitu, Half Moon Bay, Peter's Prize, Crocodile Rook, Cave Point, The Edge, Coral Clitts, Baeylon, The Arch, Fallt Line, The Pacth, Nite Delht, Kal's Dream, The Ball, Trip Top, The Mlai Hall, No Man's Land, The Chatedral, School's Ut, dan Shark Close.
Titik diving yang terakhir ini sangat menarik karena merupakan kumpulan ikan hiu dasar laut yang sangat bersahabat dengan para diver. Keindahan bawah laut yang terdapat di Alor Besar, Alor Kecil, Dulolong, Pulau Buaya, Pulau Kepa, Pulau Ternate, Pulau Pantar, dan Pulau Pura, juga mengundang decak kagum para diver profesional dari Jakarta dan Bali untuk datang ke sana.
Bahkan, para diver kelas dunia mengakui, bahwa kawasan taman laut Alor merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Tengok saja pengakuan Ken Parker dari Amerika Serikat, More big fish, prolific swarming masses of schools than anywhere I've seen in 20 years of diving.
Selain potensi wisata bahari, Alor juga menyimpan sejumlah objek wisata yang memiliki daya tarik secara kultural dan historis yang jarang dijamah dan dikunjungi baik oleh penduduk setempat maupun oleh wisatawan. Meski memiliki aksebilitas amat terbatas, tapi bagi para pencinta petualangan alam justru menjadi tantangan dan keunikan.
Salah satunya, alquran tua dari kulit kayu yang ditulis dengan tinta ramuan tradisional yang diperkirakan berusia lebih dari 800 tahun, sebuah bukti sejarah tentang keberadaan Islam di Alor. Daya pemikat lainnya yaitu kampung Takpala, sebuah desa tradisional yang dihuni oleh suku Abui dengan pola perkampungan linear dengan deretan rumah adat.
Masyarakatnya yang masih memegang teguh adat dan tradisi akan mempertontonkan atraksi budayanya yang khas dalam menyambut para pelancong, membuat nama desa ini melambung sampai ke mancanegara.

Bagi pendaki gunung yang menggilai tantangan di tempat yang masih perawan, Gunung Delaki Sirung di Pulau Pantar dan Gunung Koya-Koya di Pulau Alor, adalah tempatnya. Kepenatan yang melelahkan itu segera sirna membawa kesejukan dan kesegaran jiwa setelah menyaksikan fenomena geologi vulkanik di Desa Air Panas dan Air Terjun di Pulau Pantar, taman wisata alam Tuti Adagae di Pulau Alor.
Sementara ranch mini peternakan rusa (terbaik di kawasan timur Indonesia) jangan dilewatkan untuk dikunjungi. Kesejukan dan kesegaran di alam Hutan Nostalgia juga akan menyapa setiap pengunjung yang ingin melepas kepenatan.
Sebelum beranjak kembali pulang, jangan lupa menanam pohon di Hutan Nostalgia sebagai tanda Anda pernah mengunjungi Pulau Alor. Nama dan alamat Anda akan diabadikan pada pohon yang ditanam dan dikenang sepanjang masa.

Source : okezone

Sarajevo – Tiga kali memukau dunia

Bosnia Herzegovina. Meski namanya mengingatkan kita pada peperangan dan pembantaian, namun banyak yang akhirnya jatuh cinta dan memutuskan untuk berkunjung lagi ke negeri ini. Tiada tempat di dunia ini yang bisa dibandingkan dengan kecantikan alami Bosnia Herzegovina. Negeri ini dikaruniai gunung-gunung batu yang tinggi menjulang namun belum tersentuh modernisasi.
Jalanan yang berkelok-kelok turun-naik di gugusan perbukitan dengan perkebunan di kiri-kanannya, sungai berarus deras yang jernih, semuanya menawarkan tantangan tersendiri bagi mereka yang suka olahraga whitewater rafting, mountain climbing maupun paragliding.

Sarajevo, ibukota Bosnia Herzegovina, laksana mutiara hilang yang baru ditemukan. Terletak di sebuah lembah yang dikelilingi barisan perbukitan dan pegunungan Alpen Dinaric, membuat kota ini bakal jadi "sasaran empuk" bagi para turis berkantong tebal, pengusaha real estate, tour operator kelas satu serta para pemilik chain-hotel ternama di dunia. Diperkirakan, wajah kota ini akan berubah drastis. Sentuhan modernisasi dan hawa komersialisasi akan menjadikan kota ini kehilangan pesona alaminya.

Pernah dikuasai Kekaisaran Ottoman asal Turki. Sarajevo didirikan pada abad ke-15. Kondisi itu membawa pengaruh Islam ke kota berpenduduk 400-an ribu jiwa ini. Ketika daerah ini berada dalam kekuasaan Kekaisaran Hungaria di abad ke-18 hingga 19, pengaruh Austro-Hungarian yang berlatar belakang Katholik memperkaya budayanya. Dan setelah itu, pengaruh rezim sosialis yang berkuasa selama 50 tahun, membuat kota ini semakin bercorak.

Jerusalem-nya Eropa

Sarajevo juga pernah dijuluki sebagai Jerusalem-nya Eropa lantaran kentalnya nuansa Yahudi yang sempat mendominasi sebagian gaya bangunan di tempat ini. Sarajevo juga merupakan kota di mana berbagai bangunan simbol keagamaan mulai dari Gereja Katolik, mesjid, Synagoge dan gereja kaum Orthodox berdiri saling berdekatan. Sungguh sebuah pemandangan langka yang mungkin tidak dapat ditemukan di negara-negara Eropa yang lain.

Ketika berjalan di pusat kota di daerah Ferhadija, Anda bisa melewati gereja Orthodox Serbia. Kathedral bergaya majestik, sekaligus Mesjid Begova yang bergaya khas Turki, hanya dalam waktu tidak lebih dari 5 menit. Hal ini sebenarnya menunjukkan toleransi antar umat beragamanya sungguh luar biasa.

Yang lebih mengagumkan, saat terjadi perang etnis selama 3,5 tahun yang memakan begitu banyak korban jiwa, bangunan-bangunan itu sama sekali tidak mengalami kerusakan dan tetap berdiri kokoh sampai hari ini. Sepertinya, semua pihak yang bertikai saat itu seakan "bersepakat" untuk tidak saling melakukan perusakan terhadap bangunan-bangunan suci tersebut. Suatu hal yano sebenarnya patut diacungi jempol, meski di tengah situasi yang carut-marut sekalipun.

Pusat keramaian kota yang terletak di Ferhadija, dimulai dari monumen yang disebut Eternal Flame, sebuah obor yang sengaja dinyalakan terus menerus untuk memperingati kemenangan Yugoslavia yang pada tahun 1945 berhasil mengusir Jerman pimpinan Hitler. Dari sana, Anda bisa melihat keragaman gaya bangunan pengaruhi gaya komunis yang simpel, berpadu dengan bangunan bergaya Austro-Hungarian yang berkesan klasik dan ornamental.

Nongkrong di Slatko Cose

Jika melangkah lebih jauh lagi, Anda bakal tiba di Slatko Cose. Inilah tempat jajaran toko penjual penganan khas Bosnia yang sebagian besar bercita rasa manis legit, maupun cafe dan pub yang menyajikan kopi dan jajanan khas Turki. Jalanan yang terbuat dari susunan bebatuan gravel dan gaya bangunannya yang lebih banyak dipengaruhi arsitektur Turki klasik yang sarat nuansa Islami, berpadu dengan pengaruh Romawi kuno, menghadirkan amosfir yang berbeda.

Di daerah yang juga dikenal sebagai Turkish Quarter ini terletak Mesjid Agung Begova yang memiliki taman indah beserta pepohonan rindang yang sebagian besar usianya sudah mencapai ratusan tahun yang merupakan salah satu landmark kota yang wajib dimasukkan ke dalam agenda kunjungan Anda.

Hal lain yang tidak boleh dilewatkan adalah mencicipi makanan khas setempat yang disebut cevapi dan burek. Cevapi adalah kebab berbahan daging sapi yang sudah diasap dan dipotong panjang-panjang, disajikan bersama dengan roti bakar berbentuk bundar yang telah diramu dengan aneka rempah. Sementara burek terbuat dari pastry seperti croissant yang di bagian tengahnya diisi dengan daging panggang dan tomat yang dipotong kecil-kecil. Sementara, di bagian luarnya dilumuri dengan keju cair yang beraroma khas. Kedua makanan ini bisa diperoleh dengan harga tak lebih dari 50 cent dolar Amerika. Murah sekali, bukan?

Meski bukan atau belum tergolona kota yang metropolis, kota yang dialiri oleh Sungai Miljacka ini memiliki banyak cafe dan pub yang tersebar di penjuru kota. Salah satu tempat nongkrong yang jempolan adalah Park Princeva, sebuah cafe sekaligus restoran yang terletak di daerah perbukitan agak di luar kota arah selatan. Tempat ini menawarkan pemandangan kota dari ketinggian yang sungguh terlihat breathtaking. Apalagi saat senja menjelang! Di malam hari, tempat ini menyajikan hiburan musik dan tarian tradisional yang banyak dipengaruhi oleh perpaduan budaya Turki dan Balkan.

Kaya Akan Festival

Yang juga patut menjadi catatan adalah diselenggarakannya Bascarcija Noce alias Bascarcija Nights, sebuah festival musik dan tari musim panas yang diselenggarakan di pusat kota tua. Festival ini pernah menghadirkan grup musik dan artis papan atas kelas dunia seperti Vienna Philharmonic, Luciano Paffarotti, Celine Dion, Bon Jovi, II Divo maupun Andrea Bocelli. Sementara di musim dingin, penyelenggaraan Sarajevo Jazz Festival dan Sarajevo Winter Festival sanggup menjadi magnet bagi pelancong mancanegara untuk berkunjung ke kota eksotis yang dikenal memiliki musim dingin cukup ekstrim ini.

Untuk itu, jangan tunggu terlalu lama. Berkunjunglah ke Sarajevo segera, sebelum segalanya terlanjur menjadi terlalu mahal lantaran pembangunan dan komersialisasi besar-besaran yang tengah berlangsung di kota ini.

Source : Majalah Tamasya

Jumat, 11 Mei 2012

Gunung Salak, Gunung Sejuta Jebakan??


GUNUNG Salak, Bogor, kembali menelan korban. Kali ini menimpa pesawat komersial Sukhoi jenis Superjet 100. Pesawat buatan Rusia yang berangkat usia, menghubungi traffic control Bandara Soedari Bandara Halim Perdanakusumah untuk melakukan tes terbang ini terakhir mengadakan kontak pada pukul 14.33 WIB di sekitar Gunung Salak I dengan ketinggian sekitar 6.000 sampai dengan 7.000 kaki.

Sebelumnya, Aleksandr Yablontsev,sang pilot yang berasal dari R
karno- Hatta. Dia mengabarkan pesawat yang membawa 46 orang penumpang itu berada di atas ketinggian 10.000 kaki.Kemudian, Yablontsev meminta izin untuk turun ke ketinggian 6.000 kaki saat posisinya10 nautical mile dari Atang Sanjaya, Bogor.Setelah itu,tak ada kontak lagi.

Peristiwa ini menambah panjangdaftarpesawatterbang yang mengalami kecelakaan di Gunung Salak.Pada Juni 2008, pesawat angkut milik TNI Angkatan Udara jenis Casa NC 212-200 jatuh di dasar jurang hutan Tegal Lilin di lereng Gunung Salak, Desa Cibitung, Kecamatan Tenjolaya, yang menewaskan 18 penumpang. Pesawat mengalami kecelakaan saat melakukan penerbangan dari Lanud Halim Perdanakusumah ke Lanud Atang Sanjaya, Bogor, ketika menjalankan misi pelatihan terhadap penggunaan kamera digital udara yang baru.

Pesawat bernomor registrasi A2106 dari Skuadron 4 Lanud Abdurahman Saleh, Malang, Jawa Timur, itu lepas landas dari Lanud Halim Perdanakusumah sekitar pukul 10.00 WIB. Setengah jam kemudian,pesawat tidak bisa dihubungi menara pengawas. Saat itu,Komite Nasional Keselamatan dan Transportasi menduga karakter lokasi dan hutan di Gunung Salak yang tiba-tiba sering muncul awan menjadi penyebab jatuhnya pesawat Cassa.

Meski Gunung Salak tidak setinggi Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang berada di dekatnya,gunung setinggi 2.221 m di atas permukaan laut (dpl) itu terkenal dengan tingkat kesulitannya untuk pendakian. Tapi, gunung berapi yang memiliki beberapa puncak–– di antaranya Puncak Salak I (2.211 m dpl) dan Salak II (2.180 m dpl), dan Puncak Sumbul (1.926 m dpl)––berdasarkan kepercayaan masyarakat sekitar menyimpan sejumlah mitos yang mengakar kuat.



Apalagi, bagi masyarakat Sunda wiwitan kawasan Gunung Salak dinilai suci karena dianggap sebagai tempat terakhir Prabu Siliwangi, pendiri kerajaan Padjajaran yang dikenal dengan gelar Sri Baduga Maharaja.Karena itu, tidak jarang para “peziarah” sering mengunjungi Gunung Salak. Tujuannya untuk meminta berkah. Malah,di kawasan ini juga dikenal adanya ritual perkawinan manusia dengan jin.

Tak aneh jika di Gunung Salak dijumpai berbagai situs pemujaan atau tempat keramat. Mulai dari patung pemujaan hingga makam keramat Embah Gunung Salak yang dipercaya masyarakat setempat. Pada 2005,Pura Parahyangan Agung Jagatkarta Tamansari Gunung Salak yang dinilai sebagai pura terbesar di Pulau Jawa berdiri di Desa Taman Sari.Pendirian pura ini karena diyakini kerajaan Hindu di tanah Sunda, Padjadjaran,pernah berdiri di sini dengan ibu kota Pakuan.

Karena itu,kawasan sekitar Gunung Salak dianggap suci bagi kalangan masyarakat Sunda wiwitan. Kepercayaan lain yang juga kuat mengakar di masyarakat sekitar Gunung Salak ialah tempat ini dipercaya menjadi lokasi penyimpanan harta karun peninggalan Belanda.Harta itu berupa emas murni yang dimasukkan di dalam peti yang dikubur di empat titik terpisah di area Gunung Salak. Gunung Salak juga dikenal sebagai tempat yang menyimpan banyak “jebakan”di areal punggung.

Di Kawah Ratu misalnya, terdapat gas alam beracun belerang aktif yang menyembur dari seluruh celah tanah. Di samping itu, cuaca di sekitar Gunung Salak sangat sulit ditebak. Kawasan Gunung Salak selalu diselimuti kabut. Tapi, hanya dalam hitungan beberapa menit kabut bisa lindap.Tidak jarang,hujan tibatiba turun meski cuaca cerah. Belum lagi keberadaan jurang berbentuk V atau dikenal dengan sebutan amphitheatre.

Paling dangkal mencapai 100 meter dan paling dalam 400 meter.Kawasan di wilayah ini juga dikenal rawan longsor. Di kawasan inilah pada April 1987 silam, tujuh siswa STM Pembangunan, Jakarta Timur, ditemukan tewas setelah terperosok ke jurang di Curug Orok yang berkedalaman sekitar 400 meter di punggung gunung berketinggian sekitar 1.600 m. dari berbagai sumber .

Source : Seputar Indonesia