Minggu, 13 Mei 2012

Old Firm, Pengaruh Agama dan Politik pada Rivalitas Sepak Bola

Tidak ada yang lebih menarik saat berbicara mengenai sepakbola, agama, dan politik daripada Old Firm di Skotlandia. Old Firm adalah nama kolektif yang disandang oleh 2 klub besar Skotlandia, Glasgow Rangers dan Glasgow Celtic. Kedua klub tersebut memiliki rivalitas dengan akar jauh di luar lapangan sepakbola. Apa itu? Agama dan politik. Basis pendukung Rangers adalah kaum protestan dan loyalis kepada kerajaan Inggris, sedangkan Celtic adalah Katolik dan Republikan.

Pada abad 19 banyak imigran Irlandia datang ke Glasgow dan pada masa itulah Rangers dan Celtic berdiri. Rangers berdiri pada tahun 1873 sedangkan Celtic tahun 1888.

Bendera Skotlandia dan Inggris jarang sekali ditemui di antara suporter Celtic. Mereka lebih memilih bendera 3 warna Irlandia. Sedangkan bendera Union Jack dan Skotlandia lebih sering diusung oleh para suporter Rangers.



Pada dasarnya, suporter Celtic tidak menganggap diri mereka orang Inggris atau Skotlandia, tapi orang Irlandia. Karena background sektarianisme itulah, Glasgow Celtic dianggap mendapat dukungan tak resmi dari pemberontak IRA di Irlandia Utara. Dukungan IRA itu nampak saat mereka mengancam akan membunuh Paul Gascoigne atau Gazza usai ia melakukan selebrasi gol yang provokatif. Kala bermain bagi Rangers, Gazza merayakan gol dengan meniru gerakan pemain suling ke arah suporter Celtic. Gerakan memainkan suling itu meniru gerakan pawai Orange Orders yang kerap disertai pemain suling. Orange Orders adalah organisasi Protestan loyalis yang didirikan usai Battle of Boyne,dimana kaum Protestan mengalahkan Katolik. Orange menjadi warna tak resmi kaum Protestan dan Rangers, diambil dari nama William of Orange yang menang Battle of Boyne.

Dahulu ada policy (peraturan) tak tertulis di Rangers bahwa pemain non Protestan tak diterima di klub tersebut. Kebijakan tersebut baru terpatahkan pada tahun 1989 saat Graeme Souness mengontrak Mo Johnston yang beragama Katolik.

Sedangkan Celtic tak punya kebijakan seperti itu. Bahkan Jock Stein sendiri adalah seorang Protestan. Jock Stein adalah manajer yang membawa Celtic menjadi klub Inggris Raya pertama yang menang Piala Champions tahun 1967. Karena agama, suporter Celtic sering menjuluki diri mereka Pope’s Army (Tentara Paus). Sedang suporter Rangers sering kali menimpali dengan chant-chant kasar seperti “Go back to your Vatican” dll.

Suporter Rangers sering kali menyanyikan lagu Billy Boys yang dianggap lagu kaum loyalis. Dalam lagu Billy Boys ada lirik, “We’re up to our knees in fenian blood, surrender or you’ll die”. Fenian adalah sebutan lain untuk orang Irlandia penganut Katolik Roma.

Pada tahun 1999, wakil Presiden Rangers Donald Findlay tertangkap kamera menyanyikan Billy Boys pada sebuah event. Karena tekanan dan teror yang diterimanya, Findlay mengundurkan diri tak lama kemudian.

Saat ‘satu menit hening’ tak lama seusai WTC 9/11, suporter Celtic menolak diam di stadion dan menyanyikan lagu-lagu IRA. Saat peringatan meninggalnya Ibu Suri Inggris dan hari Veteran Perang, suporter Celtic juga menolak diam & berteriak tak henti. Video suporter Celtic menyanyikan chant IRA bisa dilihat di sini http://www.youtube.com/watch?v=82MXTJrJtTY

Pada tahun 1980, suporter Celtic dan Rangers berkelahi di lapangan usai pertandingan yang dimenangi Celtic 1-0. Kerusuhan tahun 1980 itu adalah perkelahian suporter di lapangan paling parah yang pernah tercatat dalam sepakbola. Cuplikan kerusuhan suporter Celtic dan Rangers tahun 1980 bisa dilihat di sini http://www.youtube.com/watch?v=daEMvQsWys8



Kedua klub berusaha keras mengurangi aroma sektarianisme dengan meluncurkan kampanye anti kekerasan. Celtic meluncurkan Bhoys Against Bigotry, sedang Rangers mengadakan kampanye Follow with Pride.

Tingkat kekerasan non sepakbola di Glasgow selalu meningkat menjelang pertandingan kedua tim digelar. Tingkat hunian rumah sakit di Glasgow meningkat 9x lipat pada weekend pertandingan Old Firm Derby.

 Source : Kaskus

Tidak ada komentar: